MAKNA HADIST ” JANGAN PUJI AKU SECARA BERLEBIHAN “
Sering kita mendengar propaganda yang melarang umat Islam memuji Nabi Muhammad saw. Di antara ucapan mereka yang tidak suka dengan amalan kita adalah, “Kita umat Islam tidak boleh mengkultuskan Rasulullah, tidak boleh memuji dan menyanjungnya secara berlebihan. Karena perbuatan itu merupakan bentuk kemusyrikan.
Mereka berpendapat seperti itu karena melihat hadist hanya sekilas teks sehingga terjadi pemahaman yang salah tentang itu. Rasulullah bersabda:
“Jangan memujiku secara berlebihan seperti kaum Nasrani yang memuji Isa putera Maryam. Sesungguhnya aku adalah hamba-Nya, maka ucapkanlah, “Hamba Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari dan Ahmad).
Dari ucapan itu kita memahami, kalau memuji Rasul itu menurut mereka adalah mengkultuskan atau mendewakan Rasulullah saw. Sehingga mereka menganggap memuji-muji beliau (yang menurut mereka berlebihan) adalah termasuk musyrik.
Ini adalah tuduhan keji dan fitnah yang berat bagi para pecinta Nabi Muhammad saw. Orang-orang itu tidak mengetahui makna dan tujuan hadist, sehingga pemahamannya salah.
Para ulama di dalam berbagai kitabnya telah menjelaskan makna hadist itu dengan gamblang. Dalam hadist tersebut Rasulullah saw tidak pernah melarang umatnya untuk memujinya dalam bentuk apapun.
Yang dilarang adalah pujian yg seperti dilakukan oleh Umat Nasrani kepada Nabi Isa bin Maryam, yaitu menjadikan beliau sebagai anak Tuhan.
Inilah yang dimaksud dengan pujian berlebihan yang menjadikan musyrik, bukan pujian-pujian yang seperti biasa kita dengarkan dalam acara maulid Nabi Muhammad saw.
Dan hadist di atas, juga tidak boleh dipotong seenaknya sehingga membuat maksud dan tujuan hadist itu salah. Karena jika kita memotong hadist itu dengan hanya berkata “Nabi bersabda: “Jangan puji aku secara berlebihan”, maka makna dan tujuan dari hadist itu menjadi kacau.
Karena dari hadist itu sebenarnya yang dilarang oleh Rasulullah saw itu bukan pujiannya terhadap beliau, tetapi adalah menjadikan beliau sebagai “anak Tuhan”, seperti yang dilakukan oleh orang nasrani terhadap Nabi Isa as.
Dan sejak larangan Nabi itu disampaikan hingga saat ini, tidak pernah ada seorangpun dari kalangan umat Islam yang memuji Rasulullah saw melebihi batasannya sebagai manusia.
Sehingga benarlah apa yang disampaikan Imam Bushiri di dalam syair Burdahnya:
“Tinggalkan pengakuan orang Nasrani atas Nabi mereka… Pujilah beliau (saw) sesukamu dengan sempurna… Sandarkanlah segala kemuliaan untuk dirinya… Dan nisbahkanlah sesukamu segala keagungan untuk kemuliaannya…
Karena sesungguhnya kemuliaan Rasulullah tidak ada batasnya… Sehingga takkan ada lisan yang mampu mengungkapkan kemuliaannya itu…
maka berfikirlah , fahamilah .. jangan menelan sebuah faham yang datang dari ustadz-ustaz jahil ..
( anak-anak ALBAYAN )
September 4th, 2008 at 8:59 am
Assalamu alaikum Wr.Wb.
Kalo menyoal puji2an yang berlebihan emang agak risih, kita sendiri kalo di puji yang berlebihan juga risih, apalagi Rasulullah, mahluk 4jjl yang dijamin bersih dari Dosa2 yang sebenarnya tidak menghendaki puji2an dalam bentuk apapun selain kepada 4jjl Swt.Saya setuju kalo menukhilkan Hadist itu benar dan memang seharusnya begitu.Jadi tidak harus pakai Sayidinah…
September 7th, 2008 at 6:19 am
WAALAIKUMUSSALAM …
hanya orang-orang jahil yang tidak mempunyai kesopanan dan tidak mempunyai adab tatakrama terhadap junjungan pembawa risalah yang tidak mau memuji rasul…
bagaiman mungkin anda enggan menggunakan julukan sayyid ( yg di pertuankan) terhadap sang nabi ..? sementara nabi sendiri mendeklarasikan dirinya sebagai sayyid ( yang di pertuankan )
apakah anda telah ingkari al-qur’an ? atau kah anda telah mengesampingkan hadist sohih riwayat imam bukhori..?
perhatikan baik-baik ayat al-qur’an di bawah ini .. jelas dan sangat terang tak dapat di ragukan dari depan maupun dari belakang , ALLAH BERFIRMAN :
و سيدا وحصورا
“menjadi ikutan ( yang menjadi tuan) menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang nabi termasuk keturunan orang-orang saleh (QS: ali-imran :39)
إنا اطعنا سادتنا وكبراءنا
“ya robb kami sesungguhnya kami telah menta’ati pemimpin-pemimpin kami (tuan-tuan kami) dan pembesar-pembesar kami (QS:al-ahzab:67)
sebuah hadist sohih semuga dapat membukakan mata hati anda yang telah di tutupi oleh doktrin-doktrin kaum sempalan … allahu yahdikum ala sabilil mubin ….!
dari abi sai’ed r.a. rosulullah alaihis slatu wassalam bersabda : sesungghnya hasan dan husain keduanya adalah tuan-tuan (sayyid) bagi pemuda penghuni surga >(HR.ahmad dan imam turmudzi serta beliau berkata hadist hasan sohih )
dari abi sa’ied beliau berkata : telah bersabda rosulullah alaihis solatu wassalam : saya adalah tuan(sayyid) dari segenap anak cucu adam di hari kiamat dan saya tidak membanggakan diri ,di tanganku dalah bendera pujian ,tiada seorang nabipun pada sa’at itu baik itu nabi adam atau para nabi yang lainya kecuali mereka berada di bawah benderku , dan sayalah orang pertama yang keluar dari perut bumi kelak dan saya tidak membanggakan diri ( HR ahmad dan turmudzi dan ibnu majah seraya berkata imam turmudzi ,ini adalah hadist hasan )
tadabbaruuu.. tafakkaruu.. ! fahamilah mutiara hadist dengan ilmunya , jangan menelan mentah-mentah faham dari ustadz-ustadz jahil …………..
September 13th, 2008 at 6:10 pm
Ass.wr.wb.
Dari ayat : Inkuntum tuhibbunallaha fattabi’uuni yuhbibkumullah, buat kita yang penting kalau kita cinta kepada Allah kita harus ngikuti sunnahnya Nabi kita Muhammad SAW. Percuma kan pada ngaku cinta sama Nabi Muhammad SAW, ngaku umatnya, ngaku orang islam dan beriaman tapi pada berantem saja! Rebutan duit saja! Rebutan jabatan saja! Katannya Innamal mu’minuuna ikhwatun!
October 21st, 2008 at 11:46 am
assalamualaikum,,,,,
perbedaan dalam islam itu adalah hikmah selagi tidak bertentangan dengan al quran dan assunah,setiap manusia di karuniai akal dan fikiran yang berbeda,kita harus memandang perbedaan dalam islam adalah suatu rahmat,sehingga perbedaan tersebut tidak mengsegmentasikan umat islam…
ingatlah bahwa sesama muslim adalah saudara.wallahu a’lam….