AL-BAYAN

TINGKATKAN KREASI TEGAKKAN SUNNAH NABI

Archive for June, 2008

AQIDAH AHLUL HAQ

Posted in AQIDAH, AQIDAH AHLUL HAQ on June 15, 2008 by albayan

Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah merupakan aqidah Islam yang murni sesuai dengan dalil-dalil Al-Quran dan As-Sunnah menurut pemahamanan Sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in. Dengan landasan pokok-pokok inilah ahlus sunnah wal jama’ah beriman, beraqidah dan berda’wah.

Ahlus sunnah wal jamaah adalah orang-orang yang beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya serta beriman kepada hari akhir dan taqdir yang baik dan yang buruk. Mereka adalah yang bersaksi bahwa Allah adalah Rabb dan Ilah yang diibadahi, Dia Maha Esa dengan semua kesempurnaan-Nya. Mereka beribadah dan mengikhlaskan dien hanya kepada-Nya. Mereka yang mengatakan bahwa sesungguhnya Allah adalah Sang Pencipta, Yang Mengadakan, Yang Membentuk, Yang Memberi Rizki, Yang Maha Memberi dan Maha Menahan (rizki). Dia mengurusi semua urusan. Dia adalah Ilah yang diibadahi, Yang diesakan dan yang menjadi tujuan. Dialah Al-Awwalu (yang pertama), tiada lagi sesuatupun sebelum-Nya. Dialah Al-Akhiru (yang akhir) tiada sesuatupun setelah-Nya. Dialah Yang Maha Tinggi, tiada lagi yang di atas-Nya dan Dialah Al-Batin (yang tersembunyi) yang tiada sesuatupun yang lebih tersembunyi dari pada Dia. Dialah Yang Maha Tinggi, dengan semua arti dan makna yang terkandung didalamnya. Maha Tinggi dalam Dzat-Nya, Taqdir-Nya dan dalam kekuasaan-Nya.

Dialah yang bersemayam di atas ‘Arsy. Dia bersemayam sesuai dengan keagungan, kemulyaan dan ketinggian-Nya yang mutlak. Ilmu-Nya meliputi segala yang tampak dan yang tersembunyi, yang tinggi dan yang rendah tentang hamba-Nya. Dia mengetahui semua keadaan hamba. Dia Maha dekat lagi Mujib (Mengabulkan do’a). Sesungguhnya Dzat-Nya tidak butuh kepada makhluq sedangkan semua makhluq membutuhkan-Nya setiap saat. Dia Maha Lemah-lembut dan Penyayang kepada hamba, yang tiada nikmat dien, dunia dan terhindar dari siksa kecuali dari-Nya. Dialah pemberi nikmat. Sebagian dari nikmat-Nya, ketika sepertiga malam Dia turun ke langit dunia untuk melihat hajat hamba-Nya.

Dia berfirman: Tidaklah hamba-Ku meminta kecuali hanya kepada-Ku. Barangsiapa yang berdo’a kepada-Ku niscaya Aku kabulkan, barangsiapa yang meminta pasti Aku beri, barangsiapa meminta ampun pasti Aku ampuni, (yang demikian itu sampai terbit fajar). Dia turun menurut kehendak-Nya dan melakukan apa yang Dia Kehendaki. Tiada sesuatupun yang menyamai-Nya. Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Ahlus sunnah wal jama’ah meyakini bahwa Allah adalah Al-Haakim’ yang di dalam syariat-Nya terdapat hikmah yang sempurna. Tiada ciptaan yang sia-sia. Tidaklah Dia membuat syareat (aturan) kecuali untuk kemaslahatan makhluq.

Dialah At-Tawwab Yang Maha Menerima taubat hamba dan mengampuni kesalahan mereka. Dia Yang Maha Memberi ampunan dari dosa-dosa hamba-Nya yang bertaubat, meminta ampun dan kembali kepada-Nya. Dialah Asy-Syakur, Dia membalas amalan hamba meskipun amalan itu sedikit dan dia menambah karunia-Nya kepada hamba yang bersyukur. Ahlus sunnah wal jama’ah mensifati Allah dengan apa yang Dia sifat-kan pada diri-Nya sendiri dan yang disifatkan oleh rasul. Sifat dzatiyah seperti yang Maha Hidup lagi Sempurna yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat, Maha Sempurna Qudrah-Nya, Maha Agung lagi Maha Besar, yang Maha Mulia lagi Terpuji-yang segala puji mutlak hanya milik-Nya. Dan diantara sifat-sifat fi’liyah-Nya, yang berkaitan dengan kehendak dan kekuasaan-Nya, seperti sifat Rahmah (kasih sayang), Ridha, benci dan sifat kalam (berbicara).

Dia berbicara dengan apa yang Dia kehendaki dan dengan cara yang Dia kehendaki. Ucapan-Nya takkan pernah habis. Sesungguhya Al-Qur’ an adalah kalamullah-bukan makhluk-yang dari-Nya berasal dan kepada-Nya kan kembali. Sesungguhnya Dia senantiasa dan terus bersifat, karena Dia mengerjakan yang Dia inginkan dan berbicara dengan apa yang Dia kehendaki. Dia memutuskan perkara hamba-Nya dengan hukum yang ditentukan-Nya, baik berupa hukum syar’i maupun berupa balasan. Dialah Al-Hakiim yang menghakimi, dan Dialah Al-Maalik yang menguasai. Selain Dia adalah dihakimi dan di kuasai. Hamba tidak akan bisa keluar dari hukum dan kekuasaan-Nya.

Ahlus sunnah wal jama’ah beriman kepada apa yang dikabarkan Al-Qur’an dan Hadits mutawatir yaitu: Bahwasannya mereka akan melihat wajah Rabbnya dengan pandangan yang jelas. Dan kenikmatan memandang-Nya adalah sebesar-besar kenikmatan dan keberhasilan mendapat ridha-Nya adalah sebesar-besar kenikmatan.

Mereka meyakini bahwa orang yang mati tanpa ada keimanaan tauhid di dalam hatinya, maka dia kekal di Neraka jahannam selama-lamanya. Sedangkan pelaku dosa besar jika dia mati tanpa taubat dan tak bisa melebur dosa-dosanya serta tidak mendapat syafaat, jika ia masuk neraka, maka tidak kekal di dalamnya. Dan tak seorangpun yang kekal di dalam neraka kalau di dalam hatinya masih terdapat iman walaupuri hanya sebesar biji sawi. Bahwasanya iman itu mencakup keyakinan hati dan amalan hati, amalan anggota badan dan ucapan lisan. Barangsiapa yang bisa mewujudkannya maka ia menjadi mukmin sejati yang berhak mendapat balasan dan selamat dari siksa. Barangsiapa yang menguranginya maka imannya berkurang menurut kadar pengurangannya. Oleh karena itu iman bertambah dengan ketaatan dan amalan baik dan akan berkurang dengan maksiat dan amalan buruk.

Karakter dasar mereka adalah selalu berusaha dan bersungguh-sungguh dalam hal yang bermanfaat baik urusan die maupun dunia dengan meminta tolong kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Semua gerak-gerik mereka selalu dikerjakan dengan ikhlas dan mengikuti petunjuk rasul serta memberi nasehat kepada ummat dengan petunjuk rasul.

Mereka bersaksi bahwa Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan utusan-Nya. Allah mengutusnya dengan petunjuk dan dien yang hak agar dien ini menang diantara dien-dien yang lain. Beliau adalah manusia yang (lebih berhak dihormati) oleh kaum muslimin daripada diri mereka sendiri, dan beliau adalah penutup para nabi. Beliau diutus untuk menyampaikan kabar gembira dan memberi peringatan kepada jin dan manusia. Sebagai penyeru (untuk bertauhid) kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan pembawa lampu yang terang dengan izin-Nya. Beliau diutus untuk kemaslahatan dien dan dunia, agar hamba beribadahnya kepada-Nya dan meminta rizki hanya kepada-Nya jua. Mereka mengetahui bahwa beliau adalah orang yang paling berilmu, paling jujur, paling banyak memberi nasehat dan paling agung ucapannya diantara manusia. Sehingga mereka mengagungkan dan mencintainya. Mereka lebih mendahulukan cintanya kepada beliau daripada kepada semua makhluk. Mereka berdien dengan mengikuti beliau, baik pokok maupun cabangnya. Mereka lebih mendahulukan ucapan dan petunjuk beliau daripada ucapan dan petunjuk orang lain. Mereka yakin bahwasannya Allah mengumpulkan sifat-sifat utama dan kepribadian yang sempurna pada diri beliau, yang tidak pernah diberikan kepada yang lain. Kedudukan beliau paling tinggi dan paling agung diantara makhluq, serta paling sempurna fadilahnya diantara mereka. Tiada satu kebaikanpun yang tidak ditunjukkan kepada ummatnya, dan tiada satu keburukanpun kecuali telah beliau peringatkan agar menjauhinya. Mereka juga beriman kepada semua kitab yang diturunkan Allah subhanahu wa ta’ala kepada semua rasul yang diutus. Mereka tidak membedakan salah satu diantara mereka. Mereka beriman kepada semua taqdir. Tidaklah semua amal yang baik dan yang buruk kecuali Ilmu Allah meliputinya dan Qalam-Nya mencatat. Semua berlaku di atas kehendak-Nya, dan semua terikat dengan hikmah-Nya. Dia juga menciptakan (memberi) kehendak dan kemampuan kepada hamba yang dengannya mereka berbicara dan bekerja menurut kehendak mereka. Allah tidak memaksa hamba terhadap suatu hal tapi disuruh memilihnya. Bagi seorang mukmin lebih memilih dan mencintai keimanan serta dijadikannya sebagai perhiasan di dalam hatinya dan benci terhadap kekufuran, kefasikan, dan kedurhakaan.

Dan landasan pokok ahlus sunnah adalah mereka berdien dengan (taat kepada) nasehat Allah, kitab-Nya, para pemimpin umat dan kepada semua kaum Muslimin. Mereka selalu memerintahkan yang ma’ruf dan melarang yang mungkar sesuai dengan yang diwajibkan dalam syariat. Memerintahkan supaya berbuat baik dengan orang tua dan menyambung silaturahim, berbuat baik kepada tetangga, para penguasa, para pejabatnya dan kepada semua saja yang mempunyai hak. Mereka selalu menyeru kepada akhlaq yang mulia, kepada kebaikan dan melarang akhlak yang jelek lagi hina.

Ahlus sunnah meyakini bahwa orang mukmin yang paling sempurna iman dan keyakinannya adalah yang paling baik akhlak dan amalnya, paling jujur perkataannya, yang lebih cenderung pada kebaikan keutamaan serta menjauhkan diri dari setiap kejelekan. Mereka selalu memerintahkan untuk menegakkan syariat-syariat dien dengan apa yang datang dari rasul tentang sifat dan kesempurnaannya serta melarang merusakkan dan merobohkan dien.

Ahlus sunnah memandang bahwa jihad fi sabilillah tetap wajib bersama pemimpin yang baik maupun yang fajir. Jihad adalah puncak ketinggian Islam. Jihad dengan ilmu dan hujah, jihad dengan senjata merupakan fardhlu bagi setiap muslim dengan segala kemampuannya guna membela dien. Mereka selalu menghimbau agar kaum muslimin satu kata dan berusaha untuk saling mendekatkan hati serta saling berkasih sayang dengan kaum muslimin. Mereka melarang perpecahan, benci, permusuhan dan segala sarananya. Mereka melarang menganiaya manusia baik darah, harta, maupun kehormatan mereka serta hak-hak mereka, memerintah berbuat adil dan jujur dalam hubungan mu’amalah dengan sesama, serta menganjurkan untuk senantiasa berbuat baik dan mencari keutamaan dalam mu’amalah itu. Mereka menyakini bahwa sebaik-baik umat adalah umat Muhammad dan sebaik-baik ummat Muhammad adalah para sahabat, khususnya Khulafaur Rasyidin, sepuluh orang yang dijamin masuk surga, ahlul badr, peserta bai’atur ridwan dan orang-orang terdahulu dari Muhajirin dan Anshar. Ahlus sunnah mencintai mereka semua, dan mereka tunduk kepada Allah dengan cara itu. Mereka menyebarkan kebaikan para sahabat dan mendiamkan kejelekan mereka.

Ahlus sunnah berdien karena Allah dengan menghormati para ulama sebagai petunjuk jalan, para pemimpin yang adil dan orang-orang yang mempunyai maqam (kedudukan) yang tinggi dalam agama, serta mereka yang mempunyai keutamaan diantara kaum muslimin. Mereka memohon kepada Allah supaya terhindar dari keraguan, kesyirikan, perpecahan, kenifakan, akhlak yang jelek dan mereka berdo’a supaya diteguhkan dalam dien nabi Muhammad sampai akhir hayat. Dengan landasan pokok-pokok inilah ahlus sunnah wal jama’ah beriman, beraqidah dan berda’wah.

SEMUGA KITA TETAP DALAM AQIDAH INI AQIDAH YANG SALIM AHLU SUNNAH WAL-JAMA’AH TANPA MEMAKAI LEBEL SALAFY ATAU WAHABY , PARA SAHABAT DAN TABI’IN TIDAK ADA YANG MENGGUNAKAN LEBEL SALAFY ….! YANG ADA ADALAH : KAMI MUSLIM BERAQIDAH AHLU SUNNAH WAL-JAMA’AH DAN KAMI BANGGA “

AQIDAH AHLUL HAQ

Posted in AQIDAH on June 15, 2008 by albayan

Kalimat ahlusunna wal jama’ah apabila di ucap-kan, maka yg di maksud adalah, mereka yg ber aqidah asya’irah,”

yang bermadzhab maliki semua adalah asy’ari , yang bermadzhab syafi’i juga asy’ari ” begitupun juga dalam madzhab abu hanifah, semuanya adalah asy’ariyah atau al-maturidiyah, ” dan juga sebagian besar dari madzhab imam ahmad ibnu hanbal juga bermadzhab asy’ari , walau ada beberapa bagian dari mereka yg tdk sehaluan, ” intinya kalu kita persentasekan, maka para tokoh-tokoh ulama’ umat muhammad ini di dominasi oleh madzhab asy’ari ” dalam “hal aqidah”,,mereka di antaranya adalah

:1. Imam albaqilani

2. Alqusyairi ,

3. Abi ishaq as- syairozi,

4. Abil wafa’ bin aqil al-hanbali,

5. Abi muhammad al juwainy

6. Anaknya : abil ma’ali imamul haramain

7. Hujjatul islam alghozali

8. Fahruddin ar-razy

9. Ibnu asakir,

10. Izzuddin bin abdissalam

11. Imam nawawi,

12. Tajudin assubki

13. al-hafidz imam Ibnu hajar al atsqolani

14. faqihul ummah Ibnu hajar alhaitami,

15. Imam assayuti,

dan masih bnyak ulama-ulama’ yg terpercya, yg mengikuti aqidah-aqidah asy’ariyah,mereka semua adalah ulama’ nashirussunnah, jikalau ulama’-ulama’ di atas tersebut adalah bukan ahlusunnah wal jama’ah, lalu siapakah ahlussunnah wal jama’ah sebenarnya sepanjang sejarah ? Tidak tersisapun melainkan sebuah ucapan : kebodohan telah menutupi akal dan hati mereka , maka seperti itulah kebenaran terbalik di akhir zaman, orang-orang berilmu mereka , sepelekan, dan orang-orang bodoh mereka anggap orang berilmu, kemudian di mintai fatwa-fatwa, dan tersesatlah serta menyesatkan, dengan demikian secara berlahan-lahan keutuhan agama ini ambruk dan runtuh !

“Siapakah asy’ari itu ?

“dia adalah imam yg soleh, penolong sunnah, ali bin ismail bin abi bisr ishaq bin salim bin isma’il bin abdillah bin bilal bin abi burdah bin abi musa abdillah bin quis al asy’ari r.A, salah satu dari sahabat rasulillah. Saw.

Dia lahir pda tahun 260 h.Dan wafat pda tahun, 324 H.

dari beliaulah lahir tokoh ulama-ulama terdepan penolong sunnah dalam umat ini, mereka antaranya adalah,

1. Imam alqodhi abi bakar albaqilani,

2.Imam abi thaib bin abi sahal assha’luki

3. Imam abi ali addaqqaq

4. Imam alhakim annaisaburi,

5. Imam abi bakar bin faurak,

6. Imam alhafidz abi nu’iem al ash-bihanidan lain sebagainya :

ahlusunnah wal-jama’ah adalah istilah-istilah yg di tujukan terhadap orang-orang yg berada dalam manhaj salafussoleh yg berpegang kepada alqur’an dan sunnah serta atsar-atsar yg telah di riwayatkan oleh baginda rasul dan para sahabat-sahabatnya untk membedakan dari madzhab-madzhab ahli bid’ah dan ahli hawa nafsu ,” jika istilah-istilah itu (ahlu sunnah wal jama’ah ) di ucapkan dalam kitab-kitab ulama’ .maka, yg di maksud MEREKA adalah, yg beraqidah ASY’ARY , karena mereka adalah orang-orang yg tetap mengikuti sesuai dgn apa yg rasulullah sampaikan, tanpa merubah dan menganti-nya

RASULULLAH telah mensifati, bhwa,

وقد وصف رسول الله صلى الله عليه وسلم : الفرقة الناجية بأنهم السواد الأعظم من الامة

” FIRQATUN-NAJIYAH golongan-golongan yg selamat adalah, assawadul a’dzom golongan terbanyak dalam umat ini,sifat-sifat tersebut sgt sesuai dan relevan dengan madzhab-madzhab ASY’ARY dan ALMATURIDY, sebab merekalah yg paling banyak dan yang mendominasi dalam umat ini,

dan hal tsbt telah di isyarahkan oleh baginda RASUL, bhwa umat ini tdk akan bersatu atas suatu kesesatan,

لاتجتمع أمتي على الضلالة

” umatku tdk akan bersatu atas sebuah kesesatan “

MEMAHAMI AYAT-AYAT MUTASYABIHAT :

ALLAH berfirman

هو الذي أنزل عليك الكتاب منه أيات محكمات هن أم الكتاب وأخر متشابهات

” dia-lah yg menurunkan al kitab (alqur’an ) kepadamu, di antara isinya ada ayat-ayat yg muhkamaat (yg terang dan jelas maksudnya ) itulah pokok-pokok isi al qur’an dan yg lain ayat-ayat mutasyaabihaat : ali imran : 7

termasuk dalam pengertian ayat-ayat mutasyaabihaat adalah ayat-ayat yg mengandung beberapa pengertian dan tidak dapat di tentukan arti mana yg di maksud kecuali sesudah di selidiki secara mendalam ,

atau ayat-ayat yg pengertianya hanya Allah yg mengetahui seperti ayat-ayat yg berhubungan dengan yg ghaib-ghaib misalnya ayat-ayat yg mengenai hari kiamat, surga, neraka dan lain-lain .

“Contoh-contoh ayat-ayat mutasyaabihat dalam AL-QUR’AN

:1_الرحمن على العرش استوى

yaitu tuhan yg maha pemurah yg bersemayam di atas arasy ” thaha : 5

dan ayat-ayat sejenisnya adalah tertera di surah “albaqarah 2: 39 “, fusshilaat 41 :11 , al a’raf 7:54

2. إن الذين يبايعون الله يد الله فوق أيديهم

“bahwasanya orang-orang yg berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada allah, tangan allah di atas tangan mereka ” al fath 48:9

3. وقالت اليهود يد الله مغلولة غلت أيديهم ولعنوا بما قالوا

“orang-orang yahudi berkata : tangan allah terbelunggu ” sebenarnya tangan merekalah yg di belinggu dan merekalah yg di laknat di sebabkan apa yg telah mereka katakan itu.

almaidah 5: 64

maksud dari kalimat di belenggu adalah : kikir ,kalimat-kalimat ini adalah kutukan dari allah terhadap orang-orang yahudi berarti bhwa mereka akan di belenggu di bawah kekuasa’an bangsa-bangsa lain selama di dunia dan akan di siksa dengan belenggu neraka di akhirat kelak,

4 _بل يداه مبسوطتان ينفق كيف يشاء

“tidak demikian, tetapi kedua-dua tangan allah terbuka, dia menafkahkan sebgaimana dia kehendaki “. almaidah 5: 64

5 _قال يإبليس مامنعك أن تسجد لما خلقت بيدي

“allah berfirman : hai iblis, apakah yang menghalangi kmu sujud kepada yang telah kuciptakan denagn kedua tangan-ku ” shaad 38 : 75

6. ويبقى وجه ربك ذوالجلال والإكرام

” dan tetap kekal wajah tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemulya’an ” ar-rahman 55 : 27

7 _فأينما تولوا فثم وجه الله

” maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah allah ” albaqarah 2:115

DALIL ALLAH TDK MENGAMBIL TEMPAT :

” kalimat allah berada di atas ” adlah suatu kalimat yg di pakai untk memberi pengertian bhwa allah berada dalam kedudukan yg maha tinggi ” bukan pemahaman bhwa “allah menempati pd suatu tempat yg tinggi yaitu langit” ketika kalimat ” fauqa “(berda di atas) di nisbat kan kepada Allah maka yg di maksud adalah, uluwul haqiqi ” ketinggian secara haqiqat ” bukan uluwul makani atau ” bukan ketinggian secara tempat ” adapun dalil2 yg menunjukan bhwa allah tidak bertempat di suatu arah atas (langit) adalah firman allah dalam alqur’an sebgai berikut :

1. Surah al an’am 6: ayat 31

_ وهو الله في السموات وفي الأرض يعلم سركم وجهركم ويعلم ماتكسبون

” dialah allah baik di langit maupun di bumi, dia maha mengetahui apa yg kamu rahasiakan dan apa yg kmu lahirkan dan mengetahui pula apa yg kamu usahakan ” al an’am 6:3

2. Az zukhruf 43 : ayat 84

_وهوالذي في السماء إله وفي الأرض اله وهو الحكيم العليم

dan dialah tuhan di langit dan tuhan di bumi dan dialah yg maha bijaksana lagi maha mengetahui az zukhruf 84

3. Albaqarah 2 :115

ولله المشرق والمغرب فأينما تولوا فثم وجه الله إن الله واسع عليم

” dan kepunya’an allahlah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap disitulah wajah allah, sesungguhnya allah maha luas rahmatnya lagi maha mengetahui ” Albaqarah 2 :115

4. Qaaf 50: 16

ولقد خلقنا الإنسان ونعلم ما توسوس به نفسه , ونحن أقرب إليه من حبل الوريد

” dan sesungguhnya kami telah ciptakan manusia dan mengetahui apa yg di bisikkan oleh hatinya, dan kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya ” qaaf ayat 16

5. Al waaqi’ah 56: 85

ونحن أقرب إليه منكم ولكن لا تبصرون

” dan kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu, tetapi kamu tdk melihat ” al waaqi’ah ayat 85

dan dalil-dalil yg cukup jelas dari hadist, hanya orang-orang yg mempuyai bashirah yg dapat memahaminya

وفي مسلم : عن أبي هريرة رضي الله عنه قال رسول الله : أقرب مايكون العبد من ربه وهو ساجد

” dari abu hurairah r.A. Rasul bersabda : paling dekatnya hamba terhadpt tuhanya adalah ketika ia sedang bersujud “( H.R. Muslim )”

hadist ini jelas membantah terhadp suatu keyakinan bhwa allah bertempat di atas langit “

dan rasul tdk bicra atas dasar hawa nafsu melainkan dari wahyu yg di wahyukan , dari itulah imam malik memberikan suatu isyarat dari sebuah hadist rasul

قال رسول الله : لا تفضلوني على يونس بن متى

” jangan unggul kan saya di atas yunus putra matta ” berkata imam malik: sesungguhnya rasul mengkhususkan nabi yunus, itu semata-semata karena memperingati atas sucinya allah dari mutasyabihat,( yaitu mengambil di tempat tertentusebab rasulullah di angkat ke arasy, dan yunus di tenggelamkan ke dasar laut ,dan nisbat antara keduanya dari segi arah bagi ALLAH JALLA JALALUHU adalah sama yaitu bernisbat satu, )

” seandainya segi keutama’an adalah dgn “tempat” tentu RASULULLAH SAW, lebih dekat dari nabi yunus dan lebih utama dari sinilah menjadi suatu bukti yg jelas, bhwa kalimat ” ALLAH” berada di “atas ” adalah atas yg di maksud adalah ” uluwul haqiqi ” berada di atas secara haqiqat , bukan ” uluwul makani bukan berada di atas secara tempat . “

WALLAHUL MUWAFFIQ WAHUWA A’LAMU BISSHOWAB

AQIDAH AHLUL HAQ

Posted in AQIDAH, TAKWIL ITU ISTBAT on June 14, 2008 by albayan

sebagian orang-orang mengira bahwa ta’wil adalah madzhab-madzhab bid’ah dan manhaj dholal, itu karena debu yg di taburkan di depan mata, dan akal mereka sehingga menaburkan perselisihan, terutama ketika di misalkan dengan pena’wilan-pena’wilan ahli bid’ah dari golongan batiniyah, dan ta’thil ( penkosongan dzat atau penafian dzatullah ) dari golongan jahmiyah dan lain sebagainya yg menjadikan ta’wil sebgai pengakibatan atas pemahaman bhwa Allah sesuatu yg tersusun dan berbentuk (terdiri dari sesuatu) atau penjelma’an terhadap sesuatu, inilah yg di anggap sebgai peroboh agama dan perusak aqidah dan syareat, yg benar DAN tdk di ragukan lagi oleh orang-orang berakal, bahwasa, ta’wil dengan syarat-syarat dan kaidah-kaidahnya adalah manhaj yg yg tepat,benar dan lurus, harus dan tidak boleh tidak, untuk dapat memahami alqur’an dan sunnah, serta madzhab yg ditetapkan oleh beberapa ulama salaf sebagaimana para ulama’-ulama’ dan para imam menukilkanya,

berkata imam azzarkasi dalam kitabnya ( al-burhan fi ulumil qur’an 2/ 207 ) orang-orang berbeda dalam memahami “mutasyabihaat” dalam ayat atau hadist, menjadi tiga kelompok,

1. Adalah kelompok yg menafikan ta’wil sama sekali terhdap ayat-ayat mutasyabihaat, mereka memahami secara textual atau harfiah, mereka inilah di sebut ” almusyabbahah almujassimah” ini adalah kelompok dan pendapat yg bathil ,

2. Adalah kelompok yg mengakui adanya ta’wil, namun mereka tetap berpegang terhadap ayat-ayat tsbt dengan mensucikan i’tiqat mereka dari ” penyerupa’an ,bentuk dan “ta’thil ” dan mereka berkata, tdk ada yg mengetahui maksudnya kecuali allah,   وما يعلم تأويله إلا الله   ” memasrahkan arti yang sebenarnya kepada Allah TAFWIDH ini adalah pendapat ulama salaf,

3. Adalah golongan yg mena’wil kan ayat-ayat atau hadist mutasyabihaat, dengan pena’wilan yg sesuai dan pantas bagi allah, serta dengan penakwilan yg benar,kelompok dua terakhir ini adalah bersumber dari para sahabat ,serta dua kelompok terakhir ini adalah yang berada dalam manhaj ahli sunnah wal-jama’ah , adapun kelompok pertama adalah faham ahlul bathil, yang memahami ayat-ayat mutasyabihaat secara textual/ harfiah ,dengan meyakini Allah tertawa terbahak-bahak dan berbentuk terdiri dari tangan ,kaki ,dan wajah , ini adalah musyabbahah almujassimah , faham inilah yang yang di anut oleh sebagian komunitas muslim yang bercokol di tengah-tengah kita melebelkan dirinya dengan “salafiyuun atau wahabisme ” padahal ulama’ salaf tidak ber’itiqot demikian ,mereka TAFWIDH memasrahkan arti sebenarnya pada Allah ,tanpa harus meyakini Allah terdiri dari jirim atau jisim ,

berkata imam nawawi dalam menjelaskan hadist-hadist mutasyabihaat dalam kitabnya ( syarah muslim 6/ 36 )” dalam hadist sifat-sifat mutasyabihaat ini ada dua madzhab yg sgt masyhur,

1. Adalah madzhab salaf (tdk menafikan ta’wil, namun mereka tafwidh (memasrahkan arti sebenarnya kepada allah ) tanpa ber’itiqod “penyerupa’an, bentuk,dan ta’thil,

2. Adalah madzhab kebanyakan mutakallimin dan beberapa dari ulama salaf, di hikayahkan oleh, imam malik, dan al-awza’i, bhwasanya ayat-ayat atau hadist-hadist tersebut di ta’wil, dengan pena’wilan yg sesuai dan pantas bagi allah ( begitulah apa yg di katakan, malik dan al awza’i, )

berkata imam abu muhammad al-juwaini dalam kitabnya ( ithafus sadatul muttaqin 2/110 ) adapun yg nampak dari dzahirnya ayat-ayat atau hadist, yg memberikan gambaran dgn adanya penyerupa’an atau bentuk, maka bagi kalangan ulama-ulama salaf mempunyai dua cara dalam memahaminya,

1. Adalah, berpaling, tdk ikut campur dalam memahami maknanya serta tafwidh “memasrahkan arti yg sebenarnya kepada allah, tanpa mengatakan “penyerupa’an, bentuk,dan tha’til, ini adalah pendapat kebanyakan ulama-ulama salaf,

2. Adalah mena’wilkan dan menafsirkanya dengan mengembalikan dari sifat-sifat dzat kepada sifat-sifat alfi’il (perbuatan) maka, kalimat ” allah turun ” di tafsirkanya dgn turunya ,dekatnya rahmat, ” tangan ” dengan nikmat-nikmat, ” bersemayam dengan “alqahru” menundukan dan “alqudratu” menguasai , serta hadist-hadist rasul semisal

وقد قال رسول الله : كلتا يديه يمين

” kedua tangan Allah berada di sebelah kanan ” maksud dari hadist ini, menguraikan, bhwa, kedua tangan allah adalah mempunyai sifat kesempurna’an, tdk ada yg kurang antara keduanya, maka dari sini di istilahkan dengan ” dua-duanya kanan ” sebab, istilah kiri adalah mengurangi dari sifat kanan, dan setiap sesuatu yg datang dari alquran dan hadist, yg menyandarkan kalimat tangan, atau kedua tangan di kanan,trhadp Allah, dan lain sebagainya dari nama-nama anggota jasad , maka hal itu adalah bermakna , MAJAZ. Dan ISTI’ARAH ,sebab Allah maha suci dari penyerupa’an dan bentuk, serta, suci dari tajsim ” berjasad”

PENA’WILAN ULAMA-ULAMA SALAFUSSHOLEH ATAS NUSHUSUS SHIFAAT :

Ulama khalaf dari ulama umat ini ketika mereka berada dalam madzhab pena’wilan, tdk melakukan bid’ah-bid’ah terhdap diri mereka , baik dalam segi perkata’an atau dalam segi manhaj,akan tetapi mereka berada dalam jalan kebanyakan manhaj salafus sholeh yg mengatakan tentang pena’wilan dan menjadikan penakwilan yg lurus,dan tepat, di bawah ini adalah subuah bukti yg pasti, atas jalan-jalan dalam manhaj mereka, asal serta syare’atnya,di antaranya adalah :

1. Penakwilan ibnu abbas terhadap kursi di sebutkan dalam tafsir at-thabari 3/7, dalam penafsiran ayat kursi,” para ahlu ta’wil berbeda pendapat dalam memahami makna kursi yg allah khabarkan dalam ayat kursi, sebagian dari mereka, mena’wilkan dengan, ilmu allah,ini adalah apa yg di katakan ibnu abbas.R.A, di riwayatkan oleh ja’far bin abi mughirah dari sa’ied bin jabir ia berkata ( itu adalah ilmu allah )

ta’wil ibnu abbas terhadap ” mata ” Allah berfirman :

واصنع الفلك بأعيننا

” dan buatlah bahtera itu dengan ” pengawasan kami “( huud 11:37 ) jelas dalam kalimat ayat ini menggunakan lafadz ” bi a’yunina ” yang bermakna dengan mata kami ” kalau di artikan demikian maka kaburlah arti dan maksud dari ayat tersebut , berkata ibnu abbas, ra. ” dengan pengawasan dari kami “( tafsir al-bughawi 2/322 )

Allah berfirman:

واصبر لحكم ربك فإنك بأعيننا

” dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan kami “( ath thuur 52:48 )

berkata ibnu abbas ra. ” kami melihat dengan apa yg kamu kerjakan “( tafsir al-khozin 4/190 )

pena’wilan ibnu abbas tentang tangan Allah berfirman:

والسماء بنينها بأييد

” dan langit itu kami bangun dengan kekuasaan kami ” berkata ibnu abbas ra. ” dengan kekuatan dan kekuasa’an “( tafsir al-qurtuby 17/52 )

pena’wilan ibnu abbas ,terhdap “nur”cahaya .  allah berfirman :

الله نور السموات والأرض

berkata ibnu abbas ra. : ” allah yg memberi petunjuk terhadap penduduk langit dan penduduk bumi “( tafsir at-thabari 18/ 135 )

ta’wil trhadp kalimat wajah :allah berfirman,

ويبقى وجه ربك ذوالجلال والإكرام

dan tetap kekal wajah tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemulya’an”( ar-rahman 55 : 27

berkata ibnu abbas, ra. ” kalimat wajah adalah ibarat dari Dzat Allah swt.

Berkata imam al-qurtubi, dalam kitab tafsirnya ” wajah, adalah suatu ibarat dari keberada’an Allah,dan dzatnya swt.Pendapat inilah yg di anut oleh para muhaqqiq dari ulama-ulama kami, di antar mereka adlah, ibnu faurak, abul ma’ali, dan lain sebagainya ,berkata abul ma’ali, ” adapun kalimat wajah maka yg di maksud adalah, ” dzat Allah dan keberada’an al-bari subhanahu wata’ala” ( alqurtubi 17/ 165 )

ta’wil ibnu abbas terhadap ” betis ” ALLAH berfirman :

يوم يكشف عن ساق

” pada hari betis di singkapkan “    yg di maksud betis di singkapkan ialah menggambarkan keadaan org yg sedan ketakutan, yg hendak lari karena hebatnya huru-hara hari kiamat,( tafsir at-thabari 29/38 , tafsir al-qurtubui 18/249 ) ini adalah sayyina ibnu abbas, beliau yg di do’akan oleh rasul ( allahummu faqqihhu fiddien, wa allimhut ta’wil ) allahumma, berilah ia kefahaman dalam agama,dan ajarilah ia ta’wil “beliau adalah tinta emas umat ini, dan penterjemah alqur’an, beliaulah yg di jadikan acuan oleh, asy’ary dan almaturidi, jikalau mereka melemparkan tuduhuan thdp asy’ary dan almaturidi dengan mengada-ada bid’ah ta’wil dan ta’thil, maka sama saja mereka melemparkan tuduhan yg sama terhadap ibnu abbas ra. Ma’adzallah, wa khasya wa kalla subhanaka hadza buhtanun adzim , mereka mengatakan sesuatu terhadap Allah dengan tanpa ilmu,

ta’wilnya sufyan atssauri dan ibnu jarir at-thabari tentang kalimat istiwa’ {bersemayam }, berkata imam atthabari 1/192. Dalam penafsiran firman Allah 

ثم استوى إلى السماء

yaitu di tafsirkan dgn “alaa alaiha uluwwi mulkin wasulthanin” ( tinggi atas langit layaknya tingginya raja dan penguasa ) bukan tinggi dapat berpindah atau dapat bergeser,lalau imam sufwan atssauri mena’wilkan kalimat ( bersemayam di arasy ) dengan, biqosdi amrihi ” dan mena’wilkan firman allah, bersemayam di langit dengan, ” bilqosdi ilaiha ” lihat di ( mirqatul mafatih 2/137 )

ta’wil mujahid dan imam addhohhak dan abi ubaidah dalam kalimat “wajah ”

فأينماتولوافثم وجه الله

berkata mujahid rahimahullah : adalah ” menghadap Allah “( atthabari 1/402 ) al-asma’ wassifat lilbaihaqi hal, 309, dan juga di tashihkan oleh ibnu taimiyah dlm bukunya, uqududdarriyah hal 247-248 )

berkata addhahhak, dan abu ubaidah, dalam firman allah ,

كل شيئ هالك إلاوجهه

di ta’wilkan dengan ” kecuali dia (Allah)” lihat dalam kitab ( daf’us syibhut-tashbih )

Ta’wil imam malik bin anas ra, terhadap hadis ” allah turun di setiap sepertiga malam” adalah, yanzilu amrihi ( turunya perintah dan rahmat allah ) pada setiap sepertiga malam “adapun allah azza wajallah, adalah tetap tdk bergeser dan tidak berpindah, maha suci Allah yg tiada tuhan selainya ,liat ( attamhid 8/143,}liat {siyaru a’lamun nubala’ 8/105 ) lihat juga ( arrisalatul wafiyah hal 136 karangan abi umar addani ) dan dalam kitab ( syarah an-nawawi ala shohih muslim 6/37,) dan juga ( al-inshaaf karangan ibnu sayyit al-bathliyusi hal 82)

MENELUSURI BID-AH YANG SESAT (bag 3 )

Posted in BID'AH HASANAH IMAM NAWAWI, bid'ah-bid'ah on June 14, 2008 by albayan

“berkata imam nawawi dalam kitabnya ( riyadus sholihin 102 ) hadist yg menjelaskan :”( setiap perbuatan bid’ah itu sesat ) ” yg di maksud sesat dalam hadist ini adalah : setiap perbuatan bid’ah yg tdk mempunyai standard ukuran asal dari hukum syara’ ” berbeda jikalau perbuatan-perbuatan baru ( bid’ah ) tersebut mempunyai standard ukuran asal dari hukum syareat, maka ia adalah perbuatan bid’ah yg baik , standart ukuran pencela’an terhadap perbuatan bid’ah : bukan cuma sebatas setiap sesuatu yg baru yg tidak ada contohnya saja” akan tetapi harus di barengi oleh sampai di mana perbuatan-perbuatan bid’ah tersebut menyalahi ketentuan-ketentuan sunnah & penjaga’anya terhadap dholalah (kesesatan) ” dari situlah perbuatan-perbuatan bid’ah terbagi menjadi lima hukum ” sebab setiap perbuatan-perbuatan bid’ah apabila menimpa terhadap dasar kaidah-kaidah syareat maka ia tdk akan lepas dari hukum-hukum syareat tersebut , ( riyadussolihin 102)

.فإن كل بدعة ضلالة : والمراد باالضلالة هنا ماليس له أصل في الشرع بخلاف محدث له أصل في الشرع فإنه حسن

فمنشأ الذم في البدعة ليس مجرد لفظ محدث أو بدعة : بل ما اقترن به من مخالفته للسنة ورعايته للضلالة، ولذا انقسمت البدعة إلى الأحكام الخمسة لأنها إذا عرضت على القواعد الشرعية لم تخل عن واحد منها _ انتهى من كلام الأمام نواوي ( رياض الصالحين 102‎

” diriwayatkan dari sayyidatina aisyah,sa. Beliau berkata :”rasulullah tidak pernah menambah dari sebelas rakaat dalam solat di bulan ramadhan, maupun di lain bulan ramadhan, ( al-hadist) “jumlah hitungan raka’at tersebut , mencakup pda qiyamullail rasul dan witirnya di bulan ramadhan atau di lain bulan ramadhan , dan tidak pernah di tetapkan dari hadist manapun bhwa :rasulullah solat dua puluh raka’at , “imam asysayuti menyebutkan solat dua puluh raka’at di bulan ramadhan , mereka lakukan pada masa sayyidina umar ra,dan mengutip dari imam assubki rahimahullah ta’ala, bhwa solat dua puluh raka’at masih tetap berlaku sampai sekarang

‎” lihat di kitab ( al-hawi lil fatawa 347- 350 ) karangan imam asy-sayuti rahimahumullah,

” solat taraweh di bulan ramadhan tersebut menurut imam syafi’i dua puluh raka’at bagi penduduk di luar kota madinah dengan sepuluh salam ” bersesuaiandengan apa yg merka lakukan di masa sayyidina umar , ketika beliau menyatukan para jama’ah untk solat di belakang satu imam, dan para sahabat yg lainpun menyetujui..

MENELUSURI BID-AH YANG SESAT (bag 2 )

Posted in WAHABI INGKARI IBNU RAJAB YANG AKUI BID'AH HASANAH, bid'ah-bid'ah on June 14, 2008 by albayan

من أحدث في أمرنا ماليس منه فهو رد الحديث رواه شيخان

” barang siapa yg mengada-ngadakan sesuatu dalam urusan kami ini yg bukan dari kami maka dia tertolak “( H.R. Bukhari & muslim )

“berkata al-hafidz ibnu rajab ” rahimahullah :hadist di atas dalam manthuqnya menunjukan bhwa : setiap perbuatan yg tdk masuk dalam urusan syare’at maka tertolak, akan tetapi dalam mafhum nya menunjukan bhwa : setiap perbuatan ygmasih dalam urusan syare’at maka ia di terima dalam artian tdk tertolak “

وقال الإمام العلامة عبد الله الغماري : إن هذا الحديث مخصص لحديث ( كل بدعة ضلالة) إذ لوكانت البدعة ضلالة بدون استثناء لقال الحديث : : من أحدث في أمرنا هذا شيئا فهو رد . لكن لما قال ( من أحدث في أمرنا هذا ماليس منه فهو رد ) أفاد المحدث نوعان :

“berkata imam al-allamah abdullah al-ghamari “hadist di atas ( man ahdatsa fi amrina hadza ma laisa minhu fahuwa raddun ) adalah sebgai hadist mukhassis (memperkhusus ) daripada sebuah hadist ” kullu bid’atin dholalah “sebab jikalau semua perbuatan bid’ah di anggap sesat, tanpa terkecuali, maka tentu kalimat hadist di atas berbunyi ( man ahdatsa fi amrina hadza sya’ian fahuwa roddun : tidak ada kalimat ” ma laisa minhu “nya ) akan tetapi ketika hadist di atas berbunyi : man ahdatsa fi amrina hadza ma laisa minhu fahuwa raddun ) maka hadist tersebut memberikan dua pengertian :

1. ماليس من الدين : بأن كان مخالفا لقواعده ودلائله .فهو مردود :وهو البدعة الضلال.

Perbuatan baru yg bukan dari agama , yaitu perbuatan-perbuatan baru yang menyalahi kaidah-kaidah agama dan dalil-dalilnya : ini adalah tertolak dan bid’ah semacam inilah yg sesat ,

2. وماهو من الدين: بأن شهد له أصل أو أيده دليل :فهو صحيح مقبول . وهو البدعة الحسنة.

Perbuatan-perbuatan yg dari agama, yaitu perbuatan baru yg mempunyai standard ukuran hukum asal, atau di dukung oleh dalil-dalil yg menguatkan, perbuatan bid’ah semcam ini di terima dan tidak tertolak, inilah yg di sebut ” bid’ah hasanah “

, ويؤيد حديث جرير عند مسلم ( من سن في الإسلام سنة حسنة فله أجرها وأجر من عمل بها بعده من غير أن ينقص من أجورهم شيئ ،

hal tersebut di dukung oleh hadist jarir menurut imam muslim :

barang siapa memberikan contoh dalam islam dengan contoh perilaku yg baik maka ia mendapat pahala serta mendapat pahala orang-orang yg mengamalkan setelahnya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun “

ومن سن في الإسلام سنة سيئة كان عليه وزرها ووزر من عمل بها من بعده من غير أن ينقص من أوزارهم شيئ

” barang siapa memberikan contoh dalam islam dengan contoh perilaku yg buruk, maka ia akan mendapat dosa serta mendapat dosa dari orang-orang yg melakukan setelahnya tanpa mengurangi dari dosa mereka sedikitpun ” (H.R.muslim)

وكذا حديث ابن مسعود عند مسلم من دل على خير فله أجر فاعله

“begitupun juga hadist ibnu mas’ud menjelaskan “ barang siapa yg memberikan petunjuk terhadap kebaikan maka ia mendapat pahal sebagaimana pahala orang-orang yg mengerjakanya “( H.R. Muslim )

وحديث أبي هريرة عند مسلم : من دعى إلى هدى كان له من الأجر مثل أجور من تبعه لاينقص من أجورهم شيئ، ومن دعى إلى ضلالة كان عليه من الأثم مثل إثم من تبعه لا ينقص من إثمهم شيئ

” serta hadist abi hurairah “ barang siapa yg mengajak kepda petunjuk maka ia mendapat pahala sebgaimana pahala orang yg mengikuti petunjuk tsbt , tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun “dan barang siapa yg mengajak kesesatan, maka ia mendapat dosa sebagaimana dosa-dosa orang yg mengikuti kesesatan tersebut, tanpa mengurangi dari dosa-dosa mereka sedikitpun ” ( H.R. Muslim )

MENELUSURI BID-AH YANG SESAT (bag 1 )

Posted in AKUI BID'AH HASANAH ADALAH SESAT, bid'ah-bid'ah on June 14, 2008 by albayan

Bid’ah-bid’ah, harus di singkirkan setiap perbuatan bid’ah itu sesat , merayakan maulidurrasul sesat,tahlilan budaya hindu ,dzikir berjema’ah tidak pernah ada contoh dari rasul, kalimat ini sangat populer dan sering kita jumpai dalam komunitas muslimin yang melebelkan dirinya sebagai : “salafy” sangat di sayangkan kelompok yang mengaku merujuk langsung kepada para sahabat yang hidup pada masa nabi SAW tanpa harus melewati para ulama’ empat madzhab ini kurang begitu memahami atau kalau boleh di bilang tidak mengetahui definisi-definisi bid’ah secara benar , ulama’-ulama’ muslimin dari masa tabi’in sampai sa’at ini tidak keberatan apabila perbuatan bid’ah yang jelas-jelas sesat serta tidak ada sumber hukum bahkan menyalahi ketentuan sunnah di berantas ,bahkan mereka sangat menekankan hal semcam itu apabila di biarakan maka kemurnian sunnah terkikis dan terkubur dalam peradaban dan budaya, namun , kelompok yang melebelkan dirinya sebagai “salafy” mengingkari perkata’an khalifah kedua umar bin khatab yang jelas-jelas mengakui tidak semua bid’ah dapat di sesatkan , sebab apabila perbuatan yang baru tersebut tidak menyalahi ketentuan sunnah serta mempunyai standard hukum dari hukum asal syareat , maka ia adalah “bid’ah hasanah,

dari sinilah berkata imam nashirussunnah ” imam syafi’i ra.

pembagian-pembagian bid’ah menurut imam syafai’i, ada dua ,1.Hasanah ( baik )2.Sayyi’ah { buruk }beliau berkata : bid’ah itu ada dua macam , 1.Bid’ah yg terpuji, 2. Bid’ah yg tercela ,setiap perbuatan bid’ah yg sesuai ( tdk menyalahi ketentuan sunnah ) maka ia adalah bid’ah yg terpuji, dan setiap perbuatan bid’ah yg menyalahi /menyimpang dari ketentuan sunnah maka ia adalah bid’ah yg tercela

“Lihat di kitab ( khilyatul awliya’ 9/113 ) karangan abi nu’iem ,dan lihat juga ( fathul bari 13 / 253 ). ” karangan al-hafidz ibnu hajar al-atsqolani”

berkata imam nawawi dalam kitabnya ( tahdzibul asma’ wallughat )definisi bid’ah menurut ukuran syara’ adalah : setiap sesuatu yang baru yg tdk ada di zaman rasul saw. Dan itu terbagi menjadi 1. Bid’ah yg hasanah ( baik ) 2. Bid’ah qobihah (buruk) Bahkan sulthanul ulama abu muhammad bin abdul aziz bin abdissalam berpendapat tentang masalah bida’ah dalam sebuah kitabnya ( al-qowa’idul qubra : 2/337 ) beliau berkata: “bid’ah mempunyai lima hukum,

1. bid’ah mempunyai hukum wajib ” seperti melakukan aktivitas untk mempelajari ilmu nahwu yg denganya dapat memamahi kalam-kalam allah dan rasulnya, sebab menjaga syareat adalah merupakan suatu kewajiban juga2. Bid’ah mempunyai hukum mandub, seperti mengadakan, tempat-tempat pesantren , dan tempat-tempat madaaris , serta setiap perbuatan yg di anggap baik yg tdk ada di masa angkatan pertama (masa para sahabat ) 3. Bid’ah yg mempunyai hukum makruh , adalah seperti ” memperindah dan menghiasi masjid-masjid,

4. Bid’ah yg mempunyai hukum mubah, seperti mengembangkan warna-warna pakaian atau makana-makanan dan lain sebgainya, 5. Bid’ah yg mempunyai hukum haram , ” adalah seperti perbuatan bid’ah yg di lakukan madzhab-madzhab qodariyah, jabariyah , syi’ah, muktazilah, hasyawiah, khawarij, mujassamah, dan lain sebgainya yg menyalahi dari ketentuan-ketentuan sunnah,

perbuatan bid’ah di perlihatkan sesuai atas dasar kode etik ( kaidah-kaidah ) syari’at, apabila masuk pada kaidah-kaidah wajib maka bid’ah mempunyai hukum wajib, atau masuk pda kaidah-kaidah haram, maka bid’ah berhukum haram, atau masuk terhdap kaidah mandub , makruh dan mubah, maka ia berhukum, mandub, makruh,dan mubah pula,

lihat ( al-qowa’idul kubra: 2/337)

AHLAN WASAHLAN~~YA MUSLIMUUN

Posted in General Musings on June 12, 2008 by albayan

Photobucket

الحمد لله وحده والصلاة والسلام على من لا نبي بعده ، أما بعد: فإن الله عز وجل منَّ على البشرية ببعثة الرسل وخص هذه الأمة الخاتمة للأمم بخاتم الأنبياء محمد صلى الله عليه وسلم : ( لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ

Posted in TENTANG KAMI on June 11, 2008 by albayan

assalamualaikum warahmatullah

ikhwan fillah ..kita hidup di masa beribu-ribu tahun setelah masa generasi terbaik para sahabat dan tabi’in,sunnah sudah hampir tekubur oleh budaya dan peradaban , kalau bukan kita , siapa lagi yang mau berjuang untuk menghidupkan kemurnian sunnah ? mari berkreasi ,, galang persatuan , hindari takfir , tadhlil dan tafsiq ,sumber fitnah di hembuskan oleh firqoh-firqoh pemecah umat , albayan hadir di tengah-tengah anda sebagai wadah untuk berkreasi,membedakan yang haq di atas yang batil , menjelaskan siapa yang konsisten menapak jejak salaf dengan yang hanya menggunakan nama salafy, albayan mencoba menguak siapa pengikut salaf sebenaranya, wallahul muwafiq wal inayah ihdinasshirathal mustaqim wahdina ila sabilil muqim ,